Wednesday, January 21, 2009

Karakter Emiten Tentukan Gain Saham

Asteria & Natascha

INILAH.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (21/1) berpotensi menguat jangka pendek. Karakter emiten yang direkomendasikan adalah yang mempunyai risiko kecil, tingkat utang rendah, kas kuat dan merupakan stock defensive.

Jordan Zulkarnaen, Kepala Riset PT Kresna Graha Sekurindo mengatakan, indeks saham hari ini berpotensi menguat. Ada harapan dari momentum pelantikan Barack Obama sebagai presiden AS. Investor berekspektasi, disetujuinya dana talangan tambahan sebesar US$ 350 miliar dapat mempercepat pulihnya ekonomi AS.

Kendati demikian, lanjutnya, sentimen Obama hanya sementara, karena krisis yang terjadi ternyata lebih dalam. Menurutnya, dalam jangka pendek, pasar saham dunia masih dilanda sentimen negatif dan akan mengalami koreksi, mengingat laporan keuangan emiten kuartal keempat 2008 yang akan dirilis pekan ini mengindikasikan pemburukan. “Ekspektasi di market adalah indikator awal, sedangkan sektor rill adalah kejadian yang sesungguhnya. Sehingga walaupun bursa menguat, itu hanya sentimen sementara,” ujarnya, di Jakarta, semalam.

Jordan menuturkan, saat ini di semua pasar sedang digelontorkan sentimen positif, terutama mengarahkan kebijakan fiskal untuk ekspansi. Seperti terjadi di Indonesia, dimana APBN direvisi naik 2,5% dari produk domestik bruto (PDB).

“Semua pasar dicoba dengan berbagai stimulus dengan kebijakan fiskal yang ekspansif dan stimulus-stimulus untuk mempertahankan sektor keuangan,” imbuhnya. Ia pun menyarankan investor mencermati saham-saham berisiko rendah, dengan karakter bisnis tertentu, yaitu menggunakan natural hedge (sistem lindung nilai alamiah).

Ia pun memberi contoh perusahaan yang melakukan transaksi dalam satu mata uang. “Kalau penjualan dalam rupiah, maka utang juga dalam rupiah. Saham yang mempunyai karakter ini adalah saham PT Semen Gresik (SMGR),” tandasnya.

Selain itu, investor juga diarahkan pada investasi yang memiliki tingkat utang rendah dengan arus kas yang kuat. Pasalnya, di tengah kondisi likuiditas ketat, perusahaan yang punya kas kuat masih bisa melakukan langkah ekspansi.

Jordan juga menjelaskan, ekspansi itu bermacam-macam, melalui akuisisi, buyback saham ataupun pembagian deviden. Menurutnya, aksi buyback hanya terasa pada earning per share (EPS) akibat bertambahnya jumlah saham yang dimiliki emiten.

Sedangkan pembagian dividen tidak terlalu populer bagi perusahaan yang kasnya kuat, karena hanya akan menurunkan valuasi saham. “Investor juga tidak begitu mengharapkan dividen. Dengan bunga yang turun, dividen menjadi tidak lagi menarik. Apalagi ada beban pajak,” ulasnya.

Sedangkan yang saat ini diharapkan investor adalah aksi korporasi yang bisa langsung menghasilkan capital gain dan menaikkan valuasi saham. “Investor berharap pada emiten yang berekspansi melalui akuisisi, karena efeknya langsung capital gain,” tandasnya.

“Saham yang memenuhi kriteria ini adalah SMGR, PT Bukit Asam (PTBA), PT Bank Central Asia (BBCA), PT Bank Mandiri (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan PT Timah Indonesia (TINS).”

Di sisi lain, imbuhnya, emiten yang mempunyai tingkat utang rendah dan kas kuat biasanya adalah saham BUMN. Namun, jangan lupa, saham pelat merah ini juga dituntut kontribusinya untuk bagi dividen dalam jumlah besar.

Apalagi pemerintah menaikkan target defisit APBN, yang menunjukkan tingginya kebutuhan setoran dari pendapatan BUMN. “Sehingga, kalau saham BUMN ini melakukan bagi hasil, cash flow kuat menjadi tidak menarik lagi bagi investor,” ucapnya.

Emiten lain yang dianjurkan Jordan adalah saham domestik yang defensif seperti infrastruktur, seperti PT Jasa Marga (JSMR) dan perusahaan konsumer goods seperti PT Unilever (UNVR).

Pada perdagangan saham Selasa (20/1) IHSG ditutup turun 6,536 poin (0,48%) menjadi 1.344,151. Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia mencatat transaksi 31.987 kali, dengan volume 1,212 miliar unit saham, senilai Rp 993,9 miliar. Sebanyak 35 saham naik, 74 saham turun dan 56 saham stagnan.

Saham-saham yang turun harganya antara lain, PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) melemah Rp 500 menjadi Rp 9.400, PT Bank Danamon Indonesia (BDMN) anjlok Rp 350 menjadi Rp 2.575, PT Bukit Asam (PTBA) tergerus Rp 100 menjadi Rp 7.300 dan PT Gudang Garam (GGRM) yang turun Rp 75 menjadi Rp 4.600, .

Selain itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga melemah Rp 50 menjadi Rp 4.650, PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun Rp 25 ke Rp 2.050, PT Indofood Sukses Makmur (INDF) turun Rp 10 menjadi Rp 1.040 dan PT Bumi Resources (BUMI) turun Rp 10 menjadi Rp 510 per lembar.

Sedangkan saham-saham yang naik antara lain, PT United Tractors (UNTR) naik Rp 150 menjadi Rp 4.800, PT Telkom (TLKM) naik Rp 50 ke Rp 6.450, PT Astra International (ASII) terdongkrak Rp 50 menjadi Rp 700, PT Bank Central Asia (BBCA) naik Rp 25 ke Rp 2.950 dan PT Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 10 menjadi Rp 1.920. [E1]

Saturday, January 17, 2009

Permintaan Batubara Tetap Tinggi, Fundamental Bumi Cukup Bagus

16/01/2009 23:21:20 WIB
Oleh Parluhutan Situmorang dan Yohana Philips


JAKARTA, Investor Daily
Fundamental dan prospek bisnis PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih tetap menjanjikan, walaupun harga minyak mentah di pasar internasional cenderung melemah. Sebab, permintaan batubara diperkirakan terus meningkat di tengah maraknya pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar batubara di beberapa negara Asia.

Selain itu, rencana akuisisi PT Dharma Henwa Tbk, PT Fajar Bumi, dan PT Pendopo Energi Batubara akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan penghasil batubara terbesar di Indonesia itu dalam jangka panjang.

Sementara itu, seluruh indeks bursa regional kemarin ditutup negatif, seiring anjloknya bursa Dow Jones dan Nasdaq sehari sebelumnya. Bursa Hang Seng melemah 3,37%, Nikkei 4,92%, Straits Times 3,44%, dan Taiwan 4,44%.

Penurunan tersebut berimbas negatif terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia yang anjlok 43 poin (3,13%) ke level 1.343,49.

Anjloknya harga-harga saham di bursa regional disebabkan keluarnya data penjualan ritel di Amerika Serikat (AS) pada Desember 2008 2,7%, naik dari bulan sebelumnya 2,1%. Hal tersebut mengindikasikan, ekonomi AS semakin parah.

Di samping itu, ekspektasi penurunan kinerja keuangan perusahaan finansial global pada kuartal keempat turut menjadi sentimen negatif. JP Morgan kemarin melaporkan penurunan 76% laba bersih pada kuartal keempat 2008 menjadi US$ 702 juta dari periode sama 2007 senilai US$ 3 miliar.

Pengamat pasar modal Felix Sindhunata menilai, pelemahan harga saham BUMI dalam beberapa hari terakhir sudah di luar kewajaran dan kemampuan manajemen.

“Otoritas pasar modal perlu memeriksa lebih jauh perdagangan sahamnya dalam beberapa hari terakhir. Apakah perdagangan tidak wajar itu ada kaitannya dengan masalah yang dialami beberapa perusahaan sekuritas,” kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (15/1).

Felix menilai, rencana akuisisi tiga perusahaan bukan merupakan faktor utama penyebab kejatuhan harga saham. Pasalnya, aksi korporasi ini justru berdampak positif terhadap kinerja keuangan untuk jangka panjang.

Harga saham BUMI kemarin terkoreksi lagi menjadi Rp 425 dari sehari sebelumnya Rp 470 per unit. Nilai kapitalisasi pasarnya merosot menjadi Rp 8,25 triliun dari tertinggi Rp 165 triliun. Pada 30 Desember 2008, harga sahamnya mencapai Rp 910.

Harga tertinggi penghasil batubara terbesar di Tanah Air itu pernah menembus Rp 8.550 pada Juni 2008. Namun, saat ini harga saham perusahaan sejenis, seperti PT Adaro Energi Tbk (ADRO), produsen batubara nomor dua di Indonesia, telah berhasil menyalip harga Bumi, yakni Rp 660, termasuk PT Bayan Resources Tbk (BYAN) Rp 850 per unit.

Felix menambahkan, secara fundamental Bumi Resources cukup bagus sejalan tingginya permintaan batubara. Kebutuhan berasal dari sejumlah pembangkit listrik yang sedang dibangun di beberapa negara Asia.

Pendapat senada diungkapkan Kepala Riset BNI Securities Norico Gaman. Dia mengatakan, terlepas dari berbagai kemelut yang dihadapinya Bumi, perseroan memiliki prospek bisnis yang positif. Soalnya, nilai aset Bumi cukup besar, apalagi dengan kepemilikan sahamnya pada PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia.

Di samping itu, tegas dia, Bumi memiliki cadangan batubara yang cukup besar, dengan kualitas premium sekitar 5.500 – 5.600 kilo kalori. “Ini berarti, Bumi merupakan aset nasional dalam menjaga dan memenuhi kebutuhan energi nasional. Selain komoditas ekspor, kebutuhan batubara dalam negeri cukup tinggi, khususnya sebagai sumber energi PLTU,” jelas dia, kemarin.

Dia berpendapat, rencana ekspansi perseroan melalui akuisisi sejumlah perusahaan juga berdampak positif. Sebab, Bumi merambah bisnis baru, seperti kontraktor pertambangan dan komoditas logam lainnya. “Jadi, kejatuhan harga saham lebih dipicu sentimen negatif dan ketidakpercayaan pasar, bukan faktor fundamental,” tandas dia.

Guna memulihkan kepercayaan pelaku pasar, Nerico meminta supaya manajemen Bumi lebih transparan lagi dalam melakukan setiap aksi korporasi dan berupaya memberi nilai tambah terhadap perusahaan. Artinya, kepentingan semua pihak menjadi lebih utama, bukan perseroan.


Penjualan Melonjak

Analis Danareksa Felicia Barus dalam risetnya mengatakan, penjualan Bumi tahun 2009 bakal menembus US$ 3,38 miliar dibandingkan perkirakaan 2008 US$ 3,35 miliar. Namun, laba bersih perseroan ditargetkan turun dari proyeksi tahun lalu US$ 546 juta menjadi US$ 333 juta hingga akhir tahun. Penurunan disebabkan besarnya beban perseroan.

Laba sebelum pajak, bunga, depresiasi dan amortisasi (EBTIDA) tahun ini mencapai US$ 1,2 miliar, naik dari perkiraan tahun lalu US$ 1,14 miliar.

Proyeksi sama juga dilakukan analis Samuel Sekuritas Cristine Salim. Pendapatan perseroan akan naik menjadi US$ 3,78 miliar tahun ini dari target 2008 US$ 3,74 miliar. Tapi, laba bersih tahun ini diperkirakan melambat dari target US$ 624 juta menjadi US$ 608 juta.

Terkait rencana mengakuisisi Dharma Henwa, Pendopo Energi Batubara, dan Fajar Bumi Sakti, Felicia dan Christine menilai, harganya memang mahal. Akibatnya, akuisisi berpotensi menambah utang 21% hingga tahun ini. “Tapi, untuk jangka panjang akuisisi berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan dan harga saham,” ujar Christine.

Namun demikian, tegas dia, mahalnya harga akuisisi dapat membebani neraca keuangan, terlebih harga batubara cenderung melemah di tengah krisis finansial global.

Jumlah aset perseroan pada 30 September 2008 tercatat US$ 4,2 miliar atau setara Rp 46 triliun.

Felicia mencontohkan, Dewa sebelumnya mengakuisisi 11% saham Pendopo Energi hanya US$ 11 juta. Sebaliknya, Bumi membeli 84% saham Pendopo Energi sebesar Rp 1,3 triliun. Hal sama juga terjadi untuk akuisisi 44% saham Dewa Rp 2,42 triliun.

Bumi berniat mengambil alih 44% saham Darma Henwa senilai Rp 2,4 triliun, Fajar Bumi Sakti Rp 2,4 triliun, dan Pendopo Energi Batubara Rp 1,3 triliun. Jika digabungkan, total akuisisi berjumlah Rp 6,2 triliun.

Presdir Bumi Resources Ari S Hudaya sebelumnya mengatakan, perseroan berkukuh untuk melanjutkan rencana akuisisi, kendati menimbulkan kontroversi. Pembayaran ketiga aksi korporasi akan dilakukan bertahap selama tiga tahun. Sumber dana berasal dari kas dan pinjaman.

http://www.investorindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=69381&Itemid=

Wednesday, January 14, 2009

Trading di Bear Market

1. Harga saham saat ini sudah cukup murah (PER < 9x), namun masih ada peluang lebih murah lagi, lakukan akumulasi bertahap.

2. Kalau membeli jangan ragu antri paling bawah dari harga closing 8-10% boleh masuk, jika dapat, take profit sekitar 3-5% (untuk para spekulan)

3. Saham BUMN (TLKM, BMRI, PGAS, ANTM, dll)relatif lebih aman, alternatif lain, adalah saham-saham Bluechip (ASII, AALI, BBCA, UNTR, dll)

4. Kondisi Resesi seperti sekarang ini dapat membawa market kepada ‘long term bearish’ (penurunan jangka panjang), jadi kalau ada untung jangan segan-segan take profit-lalu tunggu waktu utk beli kembali.

5. Rumor dan berita baik tidak banyak pengaruhnya jika pasar sedang turun brutal. Tapi boleh dicermati, sebab apabila terjadi rebound (mantul ke atas) maka saham yang lagi dilanda rumor/good news naik lebih tinggi.

6. Mulai cari/pelajari saham unggulan (Bluechips) berfundamental baik.

7. Khusus penggemar gorengan. Jika tetap mau beli, maka carilah saham gorengan yang likuid (sebelum resesi) yang sudah jatuh paling brutal. Perhatian, batasi dananya 15-20% dari total investasi. Lainnya main bluechips!

Unemployment Rate Masih Meningkat Tajam

IHSG 1.386

IHSG tidak bisa mempertahankan penguatannya saat penutupan sesi pertama. Indeks ditutup merosot 12 poin dan lagi-lagi tembus di bawah level 1.400.

Perdagangan di bursa Asia Pasifik yang hari ini cenderung melaju di jalur hijau, belum memberikan sentimen positif pada penutupan indeks saham sore ini.

Sehingga, IHSG ditutup terkoreksi sebesar 12,820 poin atau setara 0,92 persen ke level 1.386,91. Adapun nilai perdagangan hingga penutupan sesi kedua sore ini tercatat sebanyak 3,072 miliar sebesar Rp1,878 triliun.

Indeks Nikkei 225 berhasil menguat senilai 24,54 poin atau turun 0,92 persen ke posisi 8.438,45, lalu indeks Shanghai Composite di China juga menguat 65,50 poin ke posisi 1.928,87.

Sedangkan indeks Hang Seng juga mengalami penguatan sebesar 0,27 persen ke posisi 13.704,61 dan indeks Kospi di Seoul menguat 14,97 poin ke posisi 1.182,68. Sedangkan, indeks Straits Times Singapore ikut-ikutan menguat 3,15 poin ke level 1.764,97.

Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 32 saham menguat, 99 saham melemah, dan 46 saham tercatat stagnan. Semua sektor cenderung mengalami pelemahan, seperti sektor perkebunan mengalami pelemahan ke posisi 1.008,73. Sedangkan, sektor pertambangan juga melemah ke posisi 925,78.

Saham-saham yang ditutup menguat atau top gainer, antara lain PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) naik Rp300 ke posisi Rp11.350, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) naik Rp200 menjadi Rp6.950, PT Astra International Tbk (ASII) naik Rp150 ke level Rp12.900

Saham-saham yang ditutup melemah atau top loser, antara lain PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) turun Rp700 ke posisi Rp8.000, PT Semen Gresik Tbk (SMGR) turun Rp250 ke posisi Rp3.675, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) turun Rp200 menjadi Rp7.850, BUMI turun menjadi Rp470.

BUMI Catat Rekor Jual 3,7juta Lot!




Sunday, December 7, 2008

Brutal Jobs Report

What You Need to Know About the Brutal November Jobs Report
Friday December 5, 1:32 pm ET
By Liz Wolgemuth

The job market took an especially brutal turn last month, with employers slashing their payrolls by 533,000 jobs--a figure that sailed above economists' expectations of 320,000 jobs lost. The Labor Department also revised its employment numbers for October and September to show an additional 199,000 jobs lost over the two-month period.There are now 10.3 million Americans who are unemployed and looking for work.

Here's what you need to know:

Who's cutting jobs? The payroll cuts were in nearly every industry. Jobs were lost in construction, manufacturing, employment services, retail, leisure and hospitality, and the financial sector. Healthcare and education were the only sectors to beef up payrolls.

What's happening to hours? Employers are not only slashing employees but also slashing employee hours. The average workweek dropped to 33.5 hours, which is the lowest average since the figure began being recorded in 1964. The number of people who were working part-time jobs involuntarily--either because their hours were cut or because they couldn't find full-time jobs--hit 7.3 million, about 2.8 million higher than a year ago.

When will it improve? Economists do not expect the job market to improve much before 2010. Joshua Shapiro, chief U.S. economist at MFR, says the labor market will continue to be "dreadful" for months. "History tell[s] that once the labor market weakens as much as it has in the past several months, job-shedding takes on a life of its own and tends to persist for a long while," Shapiro wrote in a morning note.

What is the government doing? It is clearly difficult to find a job in this market--the Labor Department reported yesterday that the number of people continuing to collect unemployment benefits hit a 26-year high. The pesident recently signed a bill that extended unemployment benefits by seven weeks, or 13 weeks in states with high unemployment rates, to provide some relief.

Congress is working on a second stimulus plan that would likely include an infrastructure spending program meant to boost employment by putting people to work building bridges, roads, and public buildings.. Some economists now expect that the stimulus will be much larger than the $500 billion figure previously suggested.

What are the experts saying?

Richard Moody, chief economist for Mission Residential Research: "As has been the case in recent months, conditions in the labor market are even weaker than suggested by the headline numbers. . . . Accounting for these [part-time] workers (who would be working full time were they able to find full-time employment) and those discouraged job seekers who have given up looking for work puts the broader U6 measure of unemployment-underemployment at 12.5 percent in November, compared to the headline unemployment rate of 6.7 percent."

David Greenlaw and Ted Wieseman of Morgan Stanley: "The pace of deterioration in labor market conditions has accelerated as the economy rapidly loses momentum. We now suspect that the unemployment rate will reach 9 percent before the end of 2009. This report is likely to influence the fiscal stimulus debate in Washington (note that the next employment report will not be released until Jan. 9). We suspect that there will be more and more talk of packages as large as $1 trillion. While details are still scant at this point, it appears that an infrastructure spending program along with aid to state and local governments are almost certain to be included. And, while it has not received much public focus to this point, we suspect that a large cut in payroll taxes could start to get serious consideration. Indeed, in our view, such a measure would represent the most beneficial form of stimulus at this point since it provides support for both spending and hiring."

Nigel Gault, chief U.S. economist, IHS Global Insight "It was already clear that this would be 'one of the worst recessions' in the post-war period. After today's horrendous November employment report, it is beginning to look like the worst. The job decline of 533,000 is the biggest since the 602,000 decline in December 1974. Adjusting for the size of the economy, the percentage decline in employment (0.39percent) was the largest since May 1980. And previous months have been revised down sharply.

September payrolls now show a 403,000 decline. The original September release showed "only" a 159,000 decline. Note that the now-huge September decline preceded the extreme financial chaos triggered by the fall of Lehman Brothers on September 15. So the economy was already on its way down, and very sharply, before the financial eruptions that followed Lehman's demise."

Sumber: http://biz.yahoo.com/usnews/081205/05_what_you_need_to_know_about_the_brutal_november_jobs_report.html?.v=1&.pf=career-work