Asteria & Natascha
INILAH.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (21/1) berpotensi menguat jangka pendek. Karakter emiten yang direkomendasikan adalah yang mempunyai risiko kecil, tingkat utang rendah, kas kuat dan merupakan stock defensive.
Jordan Zulkarnaen, Kepala Riset PT Kresna Graha Sekurindo mengatakan, indeks saham hari ini berpotensi menguat. Ada harapan dari momentum pelantikan Barack Obama sebagai presiden AS. Investor berekspektasi, disetujuinya dana talangan tambahan sebesar US$ 350 miliar dapat mempercepat pulihnya ekonomi AS.
Kendati demikian, lanjutnya, sentimen Obama hanya sementara, karena krisis yang terjadi ternyata lebih dalam. Menurutnya, dalam jangka pendek, pasar saham dunia masih dilanda sentimen negatif dan akan mengalami koreksi, mengingat laporan keuangan emiten kuartal keempat 2008 yang akan dirilis pekan ini mengindikasikan pemburukan. “Ekspektasi di market adalah indikator awal, sedangkan sektor rill adalah kejadian yang sesungguhnya. Sehingga walaupun bursa menguat, itu hanya sentimen sementara,” ujarnya, di Jakarta, semalam.
Jordan menuturkan, saat ini di semua pasar sedang digelontorkan sentimen positif, terutama mengarahkan kebijakan fiskal untuk ekspansi. Seperti terjadi di Indonesia, dimana APBN direvisi naik 2,5% dari produk domestik bruto (PDB).
“Semua pasar dicoba dengan berbagai stimulus dengan kebijakan fiskal yang ekspansif dan stimulus-stimulus untuk mempertahankan sektor keuangan,” imbuhnya. Ia pun menyarankan investor mencermati saham-saham berisiko rendah, dengan karakter bisnis tertentu, yaitu menggunakan natural hedge (sistem lindung nilai alamiah).
Ia pun memberi contoh perusahaan yang melakukan transaksi dalam satu mata uang. “Kalau penjualan dalam rupiah, maka utang juga dalam rupiah. Saham yang mempunyai karakter ini adalah saham PT Semen Gresik (SMGR),” tandasnya.
Selain itu, investor juga diarahkan pada investasi yang memiliki tingkat utang rendah dengan arus kas yang kuat. Pasalnya, di tengah kondisi likuiditas ketat, perusahaan yang punya kas kuat masih bisa melakukan langkah ekspansi.
Jordan juga menjelaskan, ekspansi itu bermacam-macam, melalui akuisisi, buyback saham ataupun pembagian deviden. Menurutnya, aksi buyback hanya terasa pada earning per share (EPS) akibat bertambahnya jumlah saham yang dimiliki emiten.
Sedangkan pembagian dividen tidak terlalu populer bagi perusahaan yang kasnya kuat, karena hanya akan menurunkan valuasi saham. “Investor juga tidak begitu mengharapkan dividen. Dengan bunga yang turun, dividen menjadi tidak lagi menarik. Apalagi ada beban pajak,” ulasnya.
Sedangkan yang saat ini diharapkan investor adalah aksi korporasi yang bisa langsung menghasilkan capital gain dan menaikkan valuasi saham. “Investor berharap pada emiten yang berekspansi melalui akuisisi, karena efeknya langsung capital gain,” tandasnya.
“Saham yang memenuhi kriteria ini adalah SMGR, PT Bukit Asam (PTBA), PT Bank Central Asia (BBCA), PT Bank Mandiri (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan PT Timah Indonesia (TINS).”
Di sisi lain, imbuhnya, emiten yang mempunyai tingkat utang rendah dan kas kuat biasanya adalah saham BUMN. Namun, jangan lupa, saham pelat merah ini juga dituntut kontribusinya untuk bagi dividen dalam jumlah besar.
Apalagi pemerintah menaikkan target defisit APBN, yang menunjukkan tingginya kebutuhan setoran dari pendapatan BUMN. “Sehingga, kalau saham BUMN ini melakukan bagi hasil, cash flow kuat menjadi tidak menarik lagi bagi investor,” ucapnya.
Emiten lain yang dianjurkan Jordan adalah saham domestik yang defensif seperti infrastruktur, seperti PT Jasa Marga (JSMR) dan perusahaan konsumer goods seperti PT Unilever (UNVR).
Pada perdagangan saham Selasa (20/1) IHSG ditutup turun 6,536 poin (0,48%) menjadi 1.344,151. Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia mencatat transaksi 31.987 kali, dengan volume 1,212 miliar unit saham, senilai Rp 993,9 miliar. Sebanyak 35 saham naik, 74 saham turun dan 56 saham stagnan.
Saham-saham yang turun harganya antara lain, PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) melemah Rp 500 menjadi Rp 9.400, PT Bank Danamon Indonesia (BDMN) anjlok Rp 350 menjadi Rp 2.575, PT Bukit Asam (PTBA) tergerus Rp 100 menjadi Rp 7.300 dan PT Gudang Garam (GGRM) yang turun Rp 75 menjadi Rp 4.600, .
Selain itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga melemah Rp 50 menjadi Rp 4.650, PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun Rp 25 ke Rp 2.050, PT Indofood Sukses Makmur (INDF) turun Rp 10 menjadi Rp 1.040 dan PT Bumi Resources (BUMI) turun Rp 10 menjadi Rp 510 per lembar.
Sedangkan saham-saham yang naik antara lain, PT United Tractors (UNTR) naik Rp 150 menjadi Rp 4.800, PT Telkom (TLKM) naik Rp 50 ke Rp 6.450, PT Astra International (ASII) terdongkrak Rp 50 menjadi Rp 700, PT Bank Central Asia (BBCA) naik Rp 25 ke Rp 2.950 dan PT Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 10 menjadi Rp 1.920. [E1]




